Perlukah Garam atau Gula pada Resep Makanan Bayi?

Resep makanan bayiSource: pixabay.com

Makanan pendamping ASI atau MPASI biasa diberikan kepada bayi mulai dari usia 6 bulan.  Nah, ketika bayi susah makan, bukan berarti makanannya terasa hambar, ya Bu. Biasanya para ibu menambahkan gula dan garam ke makanan bayi untuk memberi rasa serta berharap bayi senang memakannya. Sebenarnya bayi tidak tahu perbedaan antara rasa asin dan manis, sehingga Ibu tidak perlu menambahkan garam dan gula pada resep makanan bayi. Tidak sedikit juga ada ibu yang meyakini kalau anak membutuhkan gula dan garam, layaknya orang dewasa.

Banyak orang tua yang tidak menyadari dampak dari menambahkan garam dan gula pada makanan bayi. Karena bayi belum bisa membedakan rasa, penambahan gula atau garam tidaklah perlu, contohnya pada saat membuat omelet sayur. Penambahan gula dan garam ini justru berbahaya bagi bayi. Ibu harus menghindari jumlah sodium yang berlebihan pada makanan bayi. Garam dan gula keduanya teryata dapat memicu sejumlah masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi dan gagal ginjal.

Kenapa Ibu sebaiknya menghindari penambahan garam atau gula pada makanan bayi? Simak penjelasannya!

  1. Kerusakan gigi

Orang tua pasti sangat bahagia ketika melihat gigi buah hatinya putih dan bersih. Pemberian gula ternyata berdampak pada kerusakan gigi anak. Makanan-makanan manis ternyata berakibat pada rusaknya gigi anak lho, Bu.

 

  1. Obesitas

Jumlah asupan gula berlebih akan menyebabkan banyaknya kalori. Walaupun sang bayi aktif, bisa saja jumlahnya melebihi yang dibutuhkan. Ketika jumlah kalori berlebih, maka terapat kalori yang tidak dibakar. Hal ini meyebabkan berat yang berlebih atau obesitas dan perlu diingat bahwa bayi yang gemuk bukan berarti bayi yang sehat.

  1. Masalah ginjal

Jumlah garam yang dibutuhkan bayi sangatlah sedikit. Jumlah sodium yang dibutuhkan bayi juga sudah terkandung  pada ASI atau susu formula. Bayi memiliki sistem tubuh yang masih rapuh dan ginjal menjadi organ yang sangat rentan. Ginjal bayi juga tidak bisa memproses jumlah garam dalam jumlah tinggi. Jadi, jika Anda memberi sejumlah garam pada makanannya, maka ia akan berisiko mengalami masalah ginjal.

 

  1. Hipertensi

Ketika anak mulai mengonsumsi garam sejak dini, maka anak tersebut akan berisiko lebih tinggi terkena hipertensi kelak. Resiko tersebut akan bertambah tinggi jika penyakit ini menurun dari keluarga

 

  1. Dehidrasi

Garam juga dapat memicu dehidrasi. Parahnya, bayi tidak bisa memberitahu Anda ketika merasa haus, yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Bahkan batita tidaka akan menyadari kalau dirinya mengalami dehidrasi.

Sebaiknya untuk pengganti gula, Ibu bisa memberikan bayi olahan dari berbagai macam buah. Buah juga mengandung gula, namun buah juga megandung vitamin dan mineral yang tentu sangat baik bagi buah hati Anda. Sedangkan untuk pengganti garam, ibu bisa menggantinya dengan bumbu-bumbu aromatik. Contohnya, daun salam, kunyit, bawang, dan lain sebagainya.

Yang terpenting adalah Anda tidak menambahkan garam ke makanan bayi sebagai perasa. Contohnya, tidak menambahkan garam pada puree bayi untuk memberi lebih banyak rasa. Namun terdapat contoh resep makanan bayi dengan penambahan garam bisa dilakukan. Banyak resep makan panggang yang menjadikan garam sebagai salah satu bahannya. Jumlah garam yang digunakan biasanya antara ¼ sendok teh hingga 1 sendok teh. Contohnya pada kue, kemungkinan bayi akan menerima sekitar 3 butir garam pada satu inci ukuran kue tersebut, karena garam menyebar ke seluruh adonan kue. Dalam hal ini Anda bukan menambahkan 1 sendok teh garam ke satu bagian makanan.

Be the first to comment on "Perlukah Garam atau Gula pada Resep Makanan Bayi?"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*